16 Juli 2006

0
Kata Berkata

Kataku menjerit merintih
saat kususun sesukaku
"apa yang kaumau dariku?", kata kata

1
Suara Langit

Puisi Buat Sahabatku

sayup lembut angin pagi denyutkan hati yang lelap hanyut dibawa mimpi
derai kicau senja di ujung pelataran nirwana
berseru padu
"camar..."
jangan kauberhenti bernyanyi
jangan kauusai mengucap mantera suci
lantangkan kepak suaramu
terbanglah setinggi bintang
arungi awan-awan gersangmu
dan teruslah kauberucap makna mengukir cakrawala
lewat kata-kata yang kaupinjam dari tinta sang Pencipta
11 Juli 2006

0
Sudahlah

sudah simpan cinta itu
bungkus rapat dengan egomu
taruh di laci hatimu
kunci dan telan kunci itu

sudahlah
tak usah kaubuka lagi
jangan dicari lagi
kunci yang sudah terkubur
kunci yang sudah hancur

sudahlah
tak usah orang tahu
tentang cinta itu
tentang harapan itu
tentang semua yang kaumau

sudahlah sayang
semua telah berlalu
cinta itu telah luruh
melebur bersama merah senja
yang tergantung di tetes luka

sudahlah
simpan cinta itu
dekap erat di hatimu
semoga kan temani tidurmu
23 Juni 2006

0
Ajari Aku Merangkai Kata

Ajari aku merangkai kata
Dari ujung pedihnya luka
Agar aku usaikan lara

Ajari aku menyapa cinta
Yang terendap di pekat sangka
Agar ku tahu…

Arti diriku dan dirimu

1
Sendiriku...

Aku berjalan sendiri
di bawah deras hujan
di bawah redup bintang
tanpa sinar bulan
tanpa nyanyian malam
Sendiri...
31 Mei 2006

1
Mentari Hangatkan Senja itu...

Lirih angin meniup daun kering di taman gersang
terserak terempas lepas satu satu tangkai mawar
semasa pagi kusiram
semerbak wangi selubungi akar hati
selalu kunanti
berangan sore hari menengok pagi

lirih angin meniup daun kering di taman gersang
dan sang surya hangatkan senja itu...

(Samarinda, 24 april 2006)

0
Lemah

pedih luka ini tergores
menetes remah lara
haruskah aku menunggumu
hingga malam kelam pun bisu
sunyi
sepi
sendiri

9
Sajak Rindu buat Kekasihku

Dan bulan tersenyum di bawah ranting malam
Membawa hangatnya rindu pada sang bintang
Sepoi angin di kegelapan
Mengusik nyanyian sang malam

Tahukah dalam kelam bintang kesepian
Sendiri berteman awan
Sesekali ia tulis syair malam
Melantunkan nada rindu pada sang bulan

Pada malam ia mengadu
Pada pagi ia merayu
Adakah bulan masih tersenyum
Layaknya sang bayi lelap di pangkuan ibunya

Hanya rindu yang dapat terukir
Di baris cahaya kunang-kunang M
alam gelap tanpamu...
Aku merindumu. (I miss you)

(Samarinda, 23 Nop 2005, 17:20 WITA)

0
Ratapan Hati

kuterbenam tenggelam
di lautan rindu
merepah rapuh
padanya kutumbangkan hati
tanpa sadarku mati
hatiku mati
di puing ranting kumenajak
coba lelapi hati
nafasku sesak melesak
alirku darah menanah
Tuhanku yang tak mati
jangan petimatikan hati ini
untuk saat ini

0
Hilang

aku kehilangan kata
setiap kata yang kuukir dalam bait rinduku
tak cukup melukiskan risaunya

adakah kata
yang mampu mengalirkan tetesan air mata ini
yang dapat menghadirkan diriku
KepadaMu

Lamongan (10/11/05, 17:28)
 
Setetes Nadi | © 2010 Blogger Template by DheTemplate.com | WordPress Theme 2 Blog